Aku Menarik nafas lega saat melihat bangku tunggu di peron dua yang masih kosong. ku lirik jam stasiun didekatnya, pukul sepuluh kurang lima belas. masih lima belas menit lagi sebelum kereta datang ke stasiun ini.
setelah mengibas bangku dengan jaket, aku duduk. menyesap pelan-pelan atte yang kubeli dari minimarket dekat sekitas stasiun. Pelan-pelan pula, aku mengatur irama jantungku yang mulai berdetak dengan irama paling tak beraturan.
Tuhan, bahkan sebelum sosok itu sampai saja, ribuan burung pelatuk dalam dadaku sudah sangat sibuk. sling memagut sampai hentakannya tak lagi berirama seperti yang otak ku perintahkan. aku menarik nafas pelan, memantrai hatiku sendiri, Jangan konyl, Hati, kau dan aku akan bersikap biasa-biasa saja hari ini. mari kita bekerja sama.
Kukeluarkan novel dari dalam tasku. sebenarnya ini bukan jenis novel yang biasa aku baca. namun saat itu, ia sempat menyebut kalau novel ini adalah salah satu favoritnya, jadi dengan segala cara kucari tahu tentang novel sekaligus penulisnya.
Namun, kali ini otakku tak bisa diperintah begitu saja, mungkin karena ribuan burung ribuan burung pelatuk didadaku yang tak juga mau diam. Hufft, aku menghela napas lagi. selalu seperti ini. aku sudah memikirkan semua hal-hal yang bisa aku katakan didepannya nanti. Namun, begitu kakiku menginjak teritorial stasiun, semua hal itu menguap, berganti rasa tak karuan yang entah datang dari mana. Akhirnya, ku lupakan novel ditanganku. Aku membiarkan pikiranku kembali ke saat bertemu dengannya distasiun ini. untuk pertama kalinya.
No comments:
Post a Comment