Seorang anak kecil dengan baju lusuh sepertinya sedang asyik bermain dengan beberapa peralatan sepeda motor, ya.. dia adalah seorang penjaga bengkel yang sedang mengais rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
"ada yang bisa saya bantu pak ?" tanya dia dengan segera membantu menuntun sepeda motor memasuki bengkel yang tidak seberapa itu.
"oh, ternyata ban nya bocor pak, mau diganti atau ditempel pak ?" ucapnya sebelum lelaki dengan sedikit uban itu menjawab pertanyaan yang pertama.
"di ganti saja ya dek, nanti kalau ditempel takutnya nggak awet dan bocor lagi ?"jawabnya dengan memperbaiki possisi kacamata yang menggantung di wajah.
Anak kecil tersebut masuk kedalam bengkel guna mengambil ban baru yang akan dia pasang. Beberapa menit kemudian dia kembali lagi dengan tanpa membawa apapun.
"maaf pak, ban baru stoknya udah habis, kalau ditempel saja bagaimana ?" katanya dengan tangan hampa.
"ya sudah. tidak apa-apa" jawabnya singkat.
terjadi sedikit obrolan diantara meraka, hingga ada sebuah motor yang berhenti dipinggir jalan untuk membeli bahan bakar. "mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak" kali ini kata-kata tersebut diperuntukan untuk seorang anak kecil tanpa memakai alas kaki sang penjaga bengkel. Ternyata sepeninggalan ia pergi mengisi bahan bakar, ia lupa akan ban yang sedang ia panaskan sebagai prosedur proses penempelan. ban itu meleleh dan membuat sebuah lubang sebesar tutup botol.
dengan sedikit menundukkan kepala, ia mulai meneteskan air mata. tentu ini membuat heran lelaki yang sedang berbaring menunggu apa yang dikerjakan anak tersebut selesai. dia bertanya kepada anak tersebut kenapa ia menangis. ternyata ia takut terkena serangan amarah sang lelaki yang telah lama menunggu dan sang abang (kakak laki-laki) jikalau mengetahui apa yang ia kerjakan ini tidak beres. lelaki itu hanya tersenyum lalu mengelus rambut kasar anak yang mungkin berusia 13 tahun itu .
"iya sudah, kamu beli ban dibengkel lain saja, ini uang jalan untuk beli ban, minyak dan minum adek". lelaki yang sudah berumur itupun menyerahkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya kepada sang penjaga bengkel.
"ada yang bisa saya bantu pak ?" tanya dia dengan segera membantu menuntun sepeda motor memasuki bengkel yang tidak seberapa itu.
"oh, ternyata ban nya bocor pak, mau diganti atau ditempel pak ?" ucapnya sebelum lelaki dengan sedikit uban itu menjawab pertanyaan yang pertama.
"di ganti saja ya dek, nanti kalau ditempel takutnya nggak awet dan bocor lagi ?"jawabnya dengan memperbaiki possisi kacamata yang menggantung di wajah.
Anak kecil tersebut masuk kedalam bengkel guna mengambil ban baru yang akan dia pasang. Beberapa menit kemudian dia kembali lagi dengan tanpa membawa apapun.
"maaf pak, ban baru stoknya udah habis, kalau ditempel saja bagaimana ?" katanya dengan tangan hampa.
"ya sudah. tidak apa-apa" jawabnya singkat.
terjadi sedikit obrolan diantara meraka, hingga ada sebuah motor yang berhenti dipinggir jalan untuk membeli bahan bakar. "mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak" kali ini kata-kata tersebut diperuntukan untuk seorang anak kecil tanpa memakai alas kaki sang penjaga bengkel. Ternyata sepeninggalan ia pergi mengisi bahan bakar, ia lupa akan ban yang sedang ia panaskan sebagai prosedur proses penempelan. ban itu meleleh dan membuat sebuah lubang sebesar tutup botol.
dengan sedikit menundukkan kepala, ia mulai meneteskan air mata. tentu ini membuat heran lelaki yang sedang berbaring menunggu apa yang dikerjakan anak tersebut selesai. dia bertanya kepada anak tersebut kenapa ia menangis. ternyata ia takut terkena serangan amarah sang lelaki yang telah lama menunggu dan sang abang (kakak laki-laki) jikalau mengetahui apa yang ia kerjakan ini tidak beres. lelaki itu hanya tersenyum lalu mengelus rambut kasar anak yang mungkin berusia 13 tahun itu .
"iya sudah, kamu beli ban dibengkel lain saja, ini uang jalan untuk beli ban, minyak dan minum adek". lelaki yang sudah berumur itupun menyerahkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya kepada sang penjaga bengkel.
Sesegera mungkin dia memacu sepeda motor butut, tak lupa pula ia menyuruh sang bapak dengan pakaian dinasnya untuk istirahat sampai dia kembali. cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk menunggu anak tersebut, memang dijalan yang sedang dilaluinya ini terkenal akan sepi yang sangat amat karena sedikit bangunan yang berdiri ditepi jalan.
kira-kira 30 menit kemudian terdengar suara sepeda motor yang tak lain dan tak bukan adalah seorang anak kecil dengan baju bermandikan oli membawa plastik yang didalamnya terdapat apa yang sedang dibutuhkan. dia pun mulai mengerjakan pekerjaan yang tertunda lama oleh kejadian yang menimpanya. beberapa saat kemudian apa yang ia kerjakan selesai, dia mulai memasang kembali salah satu komponen sepeda motor tersebut ketempatnya semula dan segera memberi tahu kalau sepeda motor telah siap dipakai.
lelaki dengan memakai pakaian dinas serta membawa tas tersebut berdiri guna memberikan upah kepada anak tersebut dan mengucapkan terima kasih.
dengan langah gontai karna lelah yang ia dapatkan lelaki tersebut berjalan dan mengendarai sepeda motor untuk melanjutkan perjalanan. setelah lebih kurang 1 jam perjalanan dari bengkel tersebut, Dia menghentikan laju sepeda motornya lalu memutar balik arah perjalanan. ternyata sebuah dompet dan 2 buah HP telah terlupakan sehingga ia harus kembali menuju bengkel tersebut.
dengan wajah tersenyum anak dengan masih memakai baju yang melebihi ukuran tubuh serta bermandikan oli tersebut menyambut lelaki yang hampir seperempat hari menunggu dibengkel kepunyaan sang kakak laki-laki nya.
"bapak mau mengambil dompet dan Hp ya ? tunggu sebentar ya pak, saya ambilkan didalam". ia berkata sebelum lelaki tersebut bertanya lalu dengan berlari kecil menuju kedalam bengkel untuk mengambil dompet serta Hp yang telah ia simpan.
"ini pak dompet dengan hp nya, silahkan di cek dulu,". ujarnya
lelaki paruh baya tersebut pun tersenyum, bukan karena uangnya tidak berkurang sama sekali, melainkan karena adanya sebuah kejujuran didalam jiwa anak tersebut, lalu mengambil beberapa lembar uang dan memberikannya kepada anak tersebut. awalnya anak tersebut menolak karena takut terkena amarah kakak laki-lakinya, namun karena kata-kata yang dikeluarkan lelaki berkacamata tersebut telah menyakinkan, hingga anak tersebut mau menerima.
Kisah ini diceritakan dan dialami oleh ayahanda kepada saya beberapa minggu yang lalu.
banyak pesan tersirat yang saya dapatkan dari apa yang beliau alami. salah satunya adalah :
"banyak manusia yang telah dibutakan oleh kebutuhan akan uang sehingga mereka mengambil yang bukan merupakan hak mereka,"
tapi tidak untuk anak ini,. seorang anak yang seharusnya menghabiskan waktu menikmati indahnya masa kecil dengan teman-teman dan berbagai macam permainan yang penuh canda dan tawa. namun harus rela menghabiskan masa-masa itu untuk bermain bersama oli kotor serta berbagai macam peralatan yang seharusnya dimainkan oleh mereka yang telah cukup umur, seorang anak yang notabenenya hidup jauh dibawah dari kecukupan akan tetapi mampu berbuat daripada yang sudah berkecukupan ."
bagaimana dengan kita...?
apakah kita akan kalah dengan seorang anak kecil ?
... Argadian Yoga Praditya ...
lelaki dengan memakai pakaian dinas serta membawa tas tersebut berdiri guna memberikan upah kepada anak tersebut dan mengucapkan terima kasih.
dengan langah gontai karna lelah yang ia dapatkan lelaki tersebut berjalan dan mengendarai sepeda motor untuk melanjutkan perjalanan. setelah lebih kurang 1 jam perjalanan dari bengkel tersebut, Dia menghentikan laju sepeda motornya lalu memutar balik arah perjalanan. ternyata sebuah dompet dan 2 buah HP telah terlupakan sehingga ia harus kembali menuju bengkel tersebut.
dengan wajah tersenyum anak dengan masih memakai baju yang melebihi ukuran tubuh serta bermandikan oli tersebut menyambut lelaki yang hampir seperempat hari menunggu dibengkel kepunyaan sang kakak laki-laki nya.
"bapak mau mengambil dompet dan Hp ya ? tunggu sebentar ya pak, saya ambilkan didalam". ia berkata sebelum lelaki tersebut bertanya lalu dengan berlari kecil menuju kedalam bengkel untuk mengambil dompet serta Hp yang telah ia simpan.
"ini pak dompet dengan hp nya, silahkan di cek dulu,". ujarnya
lelaki paruh baya tersebut pun tersenyum, bukan karena uangnya tidak berkurang sama sekali, melainkan karena adanya sebuah kejujuran didalam jiwa anak tersebut, lalu mengambil beberapa lembar uang dan memberikannya kepada anak tersebut. awalnya anak tersebut menolak karena takut terkena amarah kakak laki-lakinya, namun karena kata-kata yang dikeluarkan lelaki berkacamata tersebut telah menyakinkan, hingga anak tersebut mau menerima.
Kisah ini diceritakan dan dialami oleh ayahanda kepada saya beberapa minggu yang lalu.
banyak pesan tersirat yang saya dapatkan dari apa yang beliau alami. salah satunya adalah :
"banyak manusia yang telah dibutakan oleh kebutuhan akan uang sehingga mereka mengambil yang bukan merupakan hak mereka,"
tapi tidak untuk anak ini,. seorang anak yang seharusnya menghabiskan waktu menikmati indahnya masa kecil dengan teman-teman dan berbagai macam permainan yang penuh canda dan tawa. namun harus rela menghabiskan masa-masa itu untuk bermain bersama oli kotor serta berbagai macam peralatan yang seharusnya dimainkan oleh mereka yang telah cukup umur, seorang anak yang notabenenya hidup jauh dibawah dari kecukupan akan tetapi mampu berbuat daripada yang sudah berkecukupan ."
apakah kita akan kalah dengan seorang anak kecil ?
... Argadian Yoga Praditya ...
No comments:
Post a Comment